Senin, 25 Juli 2011
Merenung
Dan aku berpikir.
Sekian lama aku tak menyapa-Mu.
Saat aku berjalan di malam hari, aku memandang ke atas ke langit malam yang luas. Dan aku terus bertanya.
Kau yang berada di atas sana, Kau yang selalu terjaga, apakah yang Kau lihat ketika Kau memandang ke bawah? Ketika Kau mengarahkan wajah-Mu padaku, apakah yang Kau lihat?
Aku yang selalu menjadi inginku, yang selalu meminta dari-Mu? Aku yang selalu memuja kehidupanku, dan tunduk hanya pada lelahku?
Aku tak membenci, aku selalu berbagi. Aku menangis saat kaum-Mu menangis, aku teriakkan suara mereka. Aku perah seluruh upayaku seiring detak untuk mereka. Tapi apakah yang Kau lihat?
Aku yang percaya tak ada yang tak bisa kuraih? Aku yang penuh kelimpahan? Aku yang Kau beri bahagia? Aku yang bangga? Aku yang angkuh?
Aku yang sepi? Aku yang rindu? Aku yang sengsara? Aku yang buta?
Aku yang tak lagi menyapa-Mu?
Apakah yang Kau lihat?
Apakah yang aku ingin Kau lihat?
Aku mau menjadi pahlawan-Mu. Aku mau menjadi ingin-Mu. Dan meski Kau tetap mencintaiku, Aku tak mau yang Kau tak mau. Aku mau jadi kebanggaan-Mu.
Maka katakanlah kepadaku.
Katakanlah kepadaku dan biarkan aku mau.
Aku (tidak) bangga menjadi anak Indonesia!
Saya punya satu kabar baik dan satu kabar buruk. Karena saya suka akhir yang bahagia, maka saya akan menyampaikan kabar buruk terlebih dahulu.
Saya tidak bangga menjadi anak Indonesia. Saya tidak bangga pada Indonesia. Mengapa kita harus bangga ketika masih ada anak mati karena kurang gizi sementara pejabatnya makan enak setiap hari? Mengapa kita harus bangga ketika jutaan keluarga miskin tak punya tempat tinggal layak sementara wakil rakyat sibuk membangun gedung megah? Mengapa kita harus bangga ketika anak-anak sekolah kita mulai mengenal rokok sementara para pemimpin yang tak peduli menjual bangsa mereka sendiri?
Bagi saya, menanamkan rasa bangga terhadap bangsa ini dalam diri anak-anak kita adalah suatu kebodohan. Mungkin kita berpikir bahwa seperti halnya membiarkan anak kita dimanja dongeng dan imajinasi, baik pula membiarkan mereka hidup dalam ilusi. Jangan bingung bila bangsa ini sulit untuk maju karena terbuai oleh kepuasan semu. Jangan kaget ketika melihat anak-anak kita mulai berpikir bahwa idealisme adalah suatu kekonyolan. Padahal sesungguhnya, ikut berenang dalam arus realitas kebobrokanlah yang membuat kita jadi ikan mati. Ikan mati di bangsa yang mati.
Seharusnya kita tanamkan rasa malu. Malu karena kekayaan alam yang berlimpah peninggalan nenek moyang habis dimanfaatkan bangsa lain. Malu karena bangsa yang pernah berjaya dulu kini hidup sengsara. Malu karena budaya dianggap kuno dan tidak lagi relevan.
Dari sanalah akan muncul rasa geram. Geram melihat pemerintah yang tidak membela kepentingan rakyatnya. Geram melihat harga diri kita diinjak-injak oleh harta. Geram melihat rendahnya moral para penguasa.
Yang kita mau dari anak-anak kita adalah rasa cinta. Cinta sejati yang muncul karena rasa memiliki. Cinta sejati yang mengalir dalam air mata ketika melihat bangsa sendiri dibodohi. Cinta sejati yang mendorong mereka keluar dari zona kenyamanan mereka dan merengkuh sesamanya yang tertindas.
Sekarang, saatnya saya menyampaikan kabar baiknya. Meskipun saya tidak bangga, saya masih cinta pada bangsa dan negara ini. Dan saya yakin bahwa cinta kitalah yang bisa mengubah bangsa ini. Kitalah yang bisa berusaha, agar anak-anak kita bisa berkata pada anak-anaknya; "Berbanggalah jadi anak Indonesia!"
23 Juli 2011
Memperingati Hari Anak Nasional
"Aku (mau membuat kalian) bangga menjadi anak Indonesia!"
Kamis, 23 September 2010
Sentuh Hatiku
Mungkin banyak yang dengar lagu sentuh hatiku, yang dinyanyikan oleh maria Shandy. Akan tetapi dibalik lagu itu ternyata ada sebuah kisah yang luar biasa. Pencipta lagu ini adalah seorang anak Tuhan, dan kisah di dalam lagu itu adalah milik teman sekolahnya.
Temannya itu diperkosa oleh ayahnya sendiri dan menjadi gila, sehingga harus dipasung(dirantai) dirumahnya. Ia suka datang dan mendoakan anak itu sambil sesekali menulis lirik lagu..waktu pun berlalu...
Diapun pindah kota dan mulai sibuk dengan kegiatannya sendiri. Suatu ketika anak perempuan itu menelpon dia.
Tentu saja kaget bukan main, karena anak itu gila dan dipasung pula. Kok skrg bisa lepas? Telepon pula?
Akhirnya anak perempuan itu cerita,suatu hari entah karena karat atau bagaimana rantainya lepas. Satu hal yang langsung dia ingat, dia mau bunuh bapaknya!
Tetapi saat dia bangun, ia melihat Tuhan Yesus dengan jubah putihnya, berkata :
"Kamu harus maafin papa kamu."
Tetapi anak itu ga bisa dan dia terus menangis, memukul, dan berteriak..
Sampai akhirnya Tuhan memeluk dia dan berkata : "Aku mengasihimu"
Walaupun bergumul akhirnya anak itupun memaafkan papanya, mereka sekeluarga menangis dan boleh kembali hidup normal.
Dari situ lah lagu sentuh hatiku ditulis,
betapa ku mencintai segala yang telah terjadi
tak pernah sendiri, selalu menyertai
betapa kumenyadari didalam hidupku ini..
kau selalu memberi rancangan terbaik oleh karena kasih
Bapa sentuh hatiku, ubah hidupku, menjadi yang baru
Ajarku mengerti sebuah kasih yang selalu memberi..
KasihMu ya Tuhan tak pernah berhenti..
Jumat, 11 Juni 2010
Surat dari Ayah
Untuk istriku yang kukasihi,Hari ini, saya ingin agar engkau mengetahui isi hati saya berhubungan dengan hari kematian. Saya sudah sering bicara dengan kamu di rumah bahwa ada kelahiran, ada pertumbuhan, dan ada kematian dalam perjalanan hidup seseorang. Manusia dapat mati kapan saja dan di mana saja. Bagi orang yang ada di dalam Kristus, kematian bukanlah akhir dari suatu kehidupan. Ada suatu kehidupan yang lebih indah di balik kematian seseorang yang berada di dalam Kristus. Oleh sebab itu aku ingin berpesan kepadamu, bila suatu saat Tuhan memanggilku terlebih dulu, aku harap kamu tidak kecewa kepada Tuhan, atau menyesali hidup ini, atau menyesali kemesraan kita yang begitu singkat dalam hidup berkeluarga kita.Kamu harus ingat bahwa segala yang terjadi dalam hidup ini, bagi kita yang ada di dalam Kristus, adalah seizin Tuhan; dan itu juga rencana yang indah dari Tuhan buat kita. Syukurilah semua itu, dan jangan teteskan air mata kesedihan bila semua itu terjadi. Tabahkanlah dan hadapi dengan ketegaran, anggap semuanya adalah suatu hal yang lumrah. Akupun akan mengerti bila kamu tidak meneteskan air mata. Bukan karena kamu tidak mencintai saya, tetapi saya tahu bahwa kamu mengasihi Tuhan dan merelakan saya untuk dipanggil kembali oleh kekasih saya, yaitu Kristus Tuhan.Bila waktunya sudah tiba, ingatlah bahwa Tuhan akan memeliharamu sekeluarga. Tuhan akan menjagamu. Kiranya kekuatan dari Allah Bapa kita dan kasih dari Kristus, dan penyertaan, pertolongan, serta penghiburan menyertai kamu dan anak-anak sampai selama-lamanya. Sampai kita berkumpul di rumah Bapa di Surga. Amin.
The Feeling of Loss
Kamis, 04 Februari 2010
[untitled]
Stase minggu pertama saya di sebuah rumah sakit pendidikan telah membawa banyak pengalaman yang mengubah pandangan saya terhadap kehidupan. Mungkin inilah hal yang paling berharga bagi seorang dokter: kehormatan untuk menimba pelajaran mengenai tubuh manusia dan terlebih lagi, pelajaran mengenai hidup.
Saya rasa hampir setiap koass pernah menyaksikan pasien meninggal di depan matanya. Entah karena sebab apa. Namun, bagi saya, sungguh miris rasanya karena sebagian pasien meninggal bukan karena rendahnya mutu pelayanan dan kemampuan dokter dalam menangani penyakit pasien, namun karena sang pasien tidak mampu ‘membeli’ kehidupannya.
Saya sadar sepenuhnya bahwa dalam hidup pasti ada yang namanya survival of the fittest (setidaknya saya percaya bahwa Darwin benar soal proses seleksi alam ini). Mereka yang mampu bertahan akan terus hidup dan memiliki kesempatan untuk menghasilkan keturunan dengan kualitas wahid, sedangkan mereka yang lemah terpaksa harus mengalah. Namun, meskipun saya bukan seorang sosialis, saya percaya bahwa setiap manusia berhak untuk mendapat pelayanan kesehatan untuk mempertahankan hidupnya. Apa gunanya spesies setingkat manusia membentuk koloni kalau bukan untuk membangun kesejahteraan tiap individu di dalam populasinya? Koloni, atau dalam hal ini negara, bertanggung jawab atas kesehatan dan kehidupan rakyatnya.
Memang, hidup ada di tangan Tuhan. Tapi, apakah menyerah kepada ajal karena tidak mampu membayar juga masuk ke dalam kamus-Nya? Bukankah nabi-nabi datang ke dalam dunia untuk membuat tanda ajaib dan mujizat kesembuhan? Saya percaya Tuhan ingin menjamah hamba-Nya yang sakit dan menderita.
Mungkin itulah faktor utama yang membuat saya sempat merasa tertekan selama stase saya di sebuah rumah sakit pendidikan. Melihat satu-persatu pasien pulang (entah pulang paksa ataupun ‘berpulang’ ke sisi-Nya) tanpa bisa berbuat banyak. Melihat air mata dan teriakan putus asa dari keluarga yang ditinggalkan. Melihat ketidakadilan. Melihat ketidakberdayaan.
Pasien saya, sebut saja Tn. A, mengajarkan saya banyak hal. Tn. A adalah seorang yatim piatu, yang tinggal bersama dengan kakaknya. Usianya baru 25 tahun dan belum menikah, namun sudah mengalami gagal ginjal yang mengharuskannya menjalani dialisis selama beberapa kali seminggu. Pada awalnya, dia sempat menjalani beberapa kali dialisis di sebuah rumah sakit swasta. Namun, karena biaya yang semakin menipis, kakaknya mengajukan permohonan Jamkesmas dan membawa sang adik berobat di rumah sakit tempat saya bertugas.
Di sinilah saya melihat bahwa Jamkesmas, sekalipun merupakan singkatan dari Jaminan Kesehatan Masyarakat, tidak dapat menjadi jaminan mutlak bagi kesehatan masyarakat. Tn. A yang saya temui ternyata membutuhkan hemodialisis cito karena tiba-tiba mengalami sesak malam itu. Sang kakak yang awalnya berpikir untuk menunggu kesempatan hemodialisis gratis lewat Jamkesmas (yang entah kapan baru akan dilaksanakan) terpaksa mengubah keputusannya. Dia rela mengeluarkan biaya hampir satu juta rupiah (entah harus bekerja berapa bulan untuk mendapatkannya) untuk menukarnya dengan nyawa adiknya. Saat itulah saya bertekad, akan berupaya semaksimal mungkin untuk keselamatan Tn. A.
Setelah melakukan informed consent kepada kakak Tn. A, saya mulai mencari informasi mengenai rumah sakit swasta yang bisa melayani hemodialisis cito. Perawat yang berjaga bersama saya terlihat kebingungan dengan keputusan saya namun dengan segera menolong saya menghubungi beberapa rumah sakit yang dikenalnya. Setelah beberapa saat mencari, sebuah rumah sakit swasta ternyata bersedia melakukan hemodialisis cito, namun dibutuhkan waktu sekitar satu jam lagi untuk mendatangkan petugas hemodialisis dan mempersiapkan peralatan. Tidak apa, pikir saya. Menunda satu jam lebih baik daripada satu hari.
Saya menghubungi dokter jaga rumah sakit tersebut untuk berbicara langsung dan mempersiapkan transfer pasien. Dalam waktu satu jam, Tn. A pun berhasil diberangkatkan. Saat itu, saya lega setengah mati. Saya percaya misi saya berhasil. Tn. A kini punya harapan untuk melanjutkan hidupnya.
Lima jam kemudian, sekitar pukul delapan pagi. Tn. A kembali ke rumah sakit tempat saya bertugas. Kondisinya baik. Tidak sesak, dan bisa tidur tenang. Saya sangat bahagia ketika sang kakak kembali dengan wajah sumringah. Namun tak lama, sekitar satu atau dua jam kemudian, perawat berteriak memanggil saya. Tn. A apneu!
Saya tidak percaya apa yang saya dengar. Bukankah dia sudah dihemodialisis? Bukankah saya sudah berusaha dan berhasil? Bukankah sang kakak telah menukar satu juta rupiah dengan hidup adiknya? Bukankah Tuhan sudah mendengar seruan hamba-Nya?
Pagi itu, Tn. A kembali menghadap pencipta-Nya. Sang kakak menangis tak henti-hentinya di sisi sang adik. Saya yang tidak tahan melihat cinta persaudaraan yang begitu besar hanya bisa meminta sang kakak untuk mengikhlaskan kepergian adiknya dan buru-buru meninggalkan ruangan. Sambil mengurus surat kematian, saya terus bertanya di dalam hati, kenapa semua jadi begini.
Sebelum saya meninggalkan bangsal, saya menyempatkan diri menemui kakak Tn. A. Saya mohon maaf karena segala keterbatasan saya. Saya sudah melakukan semua yang saya bisa. Saya benar-benar menyesal, karena di dalam hati saya tahu, pasti ada sesuatu yang luput dari kemampuan saya, yang salah dan terjadi pada Tn. A.
Tanpa saya duga, yang saya terima adalah sebuah senyuman. Senyuman yang meski tenggelam dalam air mata tetap bersinar dengan tulusnya. Senyuman dan ucapan terima kasih, itulah yang saya dapatkan sebagai balasan. Hati yang hancur, itulah yang saya rasakan.
Esoknya, saya merasa benar-benar tidak bersemangat untuk kembali beraktivitas di bangsal. Rasanya dunia saya runtuh.
Tetapi kemudian, saya melihat ke sekeliling dan merenung. Saya bukanlah satu-satunya orang yang pernah merasakan hal seperti ini. Teman-teman saya juga pernah merasakannya. Betapa koass-koass lain, yang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolong pasien mereka, juga pernah kehilangan. Betapa perawat-perawat yang bekerja dengan setia harus terus berhadapan dengan pasien meninggal lagi dan lagi.
Saya mulai menemukan harta karun di balik semua ini. To cure sometimes, to relieve often, to comfort always. Dokter tidak mampu menyembuhkan, tapi kehadirannya haruslah menjadi kenyamanan bagi pasiennya. Semua pengalaman ini adalah pelajaran nyata yang membuat saya mengerti dengan hati, bukan hanya lewat teori.
Kini saya sudah bisa tersenyum lagi, menikmati pekerjaan sebagai koass karena pekerjaan ini adalah pekerjaan yang unik. Saya tidak mau menyesali apa yang telah terjadi. Meski saya tidak mampu menyelamatkan hidup Tn. A, saya lega saya telah menyempatkan diri mendengar berbagai keluhan keluarganya, menjadi penghiburan di kala duka. Kini saya bertekad untuk tidak hanya menjadi profesional yang berdiri terbungkus jas putih, tapi terlebih lagi, menjadi manusia sejati.
Saya akan terus bejuang untuk pasien-pasien saya.
Minggu, 02 Agustus 2009
Humility
O Jesus! meek and humble of heart, Hear me.
From the desire of being esteemed,
Deliver me, Jesus.
From the desire of being loved…
From the desire of being extolled …
From the desire of being honored …
From the desire of being praised …
From the desire of being preferred to others…
From the desire of being consulted …
From the desire of being approved …
From the fear of being humiliated …
From the fear of being despised…
From the fear of suffering rebukes …
From the fear of being calumniated …
From the fear of being forgotten …
From the fear of being ridiculed …
From the fear of being wronged …
From the fear of being suspected …
That others may be loved more than I,
Jesus, grant me the grace to desire it.
That others may be esteemed more than I …
That, in the opinion of the world,
others may increase and I may decrease …
That others may be chosen and I set aside …
That others may be praised and I unnoticed …
That others may be preferred to me in everything…
That others may become holier than I, provided that I may become as holy as I should…
(Rafael Cardinal Merry del Val)
Kerendahan hati bukanlah hanya sekedar menjadi tidak sombong. Kerendahan hati ialah menyadari siapa sebenarnya kita manusia, yang eksistensinya tidak jauh berbeda dari embun yang pagi ini ada namun sejenak telah menguap tiada.
Minggu, 14 Juni 2009
The Living and The Dead
Kini saya menyadari bahwa mereka yang mati sebenarnya tetap berhubungan dengan yang hidup. Tentu saja, bukan dengan cara gaib atau mistis seperti yang sering kita bayangkan.
Selama hampir setahun Ayah saya meninggal, banyak hal telah terjadi di dalam saya dan keluarga saya. Mulai dari hal kecil seperti servis mobil, rencana menjual rumah, wisuda saya yang terancam tertunda karena skripsi tidak selesai, dan begitu banyak hal baru lainnya. Namun saya tetap tidak dapat melupakan almarhum Ayah saya. Bukan berarti selama ini saya berusaha melupakannya, tapi ia yang tetap muncul dalam kehidupan saya. Sekali lagi, bukan lewat cara gaib atau mistis.
Lalu untuk apa ia menelpon ibu saya?
Ternyata sebelum Ayah saya meninggal, Ayah saya pernah meminta bapak tersebut untuk menghubungi kami bila kasusnya di pengadilan mendapat kemenangan. Ayah saya hendak menyewa pengacara tersebut untuk kasus yang sama yang ternyata sedang dihadapi nenek saya.
Kejadian seperti ini bukan yang pertama kali. Selepas meninggalnya Ayah saya, banyak kejadian-kejadian kecil yang membuat saya terharu dan kembali terkenang kepadanya, karena ia, meskipun secara fisik tidak lagi bersama kami, masih terus memberikan pertolongan dan semangat lewat cara yang tidak kami duga. Boleh dikatakan, itu semua adalah buah dari segala sesuatu yang sudah disiapkannya sejak dulu.
Kisah ini mengingatkan saya kepada film P.S. I Love You. Ide kisahnya sama, sangat sederhana. Bahwa meskpun telah tiada, mereka yang pergi masih memengaruhi kehidupan kita yang ditinggalkan. Kita masih merasakan kehangatan dan semangat mereka, yang akhirnya membantu kita untuk melangkah maju.
Kamis, 07 Mei 2009
The Worst Feeling
Sabtu, 25 April 2009
Sepeda Tua
Tidak banyak yang saya ingat tentang sepeda itu, termasuk di mana keberadaannya terakhir. Namun saya masih ingat bahwa sejak saya memiliki sepeda itu, saya punya jadwal baru. Hampir setiap hari, tepatnya sore hari sekitar pukul lima, setelah saya mandi, saya akan memaksa pembantu saya untuk mengantarkan saya naik sepeda di dekat rumah. Dia berjalan kaki, saya mengayuh.
Sepeda itu sangat menyenangkan, karena semenjak saya memilikinya saya bisa berpetualang lebih jauh. Melihat blok sebelah, mengunjungi taman di ujung kompleks, bertemu teman baru, dan berbagai pengalaman seru lainnya.
Sampai akhirnya, entah kapan dan mengapa, saya tidak lagi menaiki sepeda itu.
Kini, saya sudah berusia lebih dari dua puluh tahun. Sudah lebih dari sepuluh tahun saya tidak melihat sepeda itu. Entah di mana ia berada. Namun, mengingat kembali kenangan saya bersama sepeda itu, saya belajar sesuatu yang baru.
Selama kita hidup, kita terus bertumbuh. Ke atas, ke samping, ke bawah, ke depan, atau ke mana saja. Yang jelas, kita terus berubah. Cita-cita berganti, impian bergeser. Bahkan terkadang, hal-hal yang prinsip pun akhirnya berhasil direnovasi oleh sang waktu.
Sadar atau tidak, banyak sekali nilai-nilai masa kecil kita yang kini telah berubah. Namun, kita tidak pernah terusik bukan? Karena nilai-nilai yang kita anut sekarang adalah bentukan masa, yang kita dapatkan lewat sejuta momen kehidupan kita. Menyesalinya berarti menyesali hidup yang kita punya.
Saat ini, saya tidak punya sepeda. Saya juga tidak lagi tertarik naik sepeda. Saya punya mobil, dan saya bisa berjalan kaki atau naik bus jika mobil saya mogok. Jelas, sepeda bukan lagi kebutuhan saya.
Pengalaman belasan tahun telah mengubah nilai dan cara pandang saya terhadap sepeda. Dan itu sangat normal.
Beberapa waktu lalu, saya diminta oleh sebuah perkumpulan mahasiswa untuk membagikan kisah pengalaman saya di perkumpulan tersebut. Saya sudah bergabung selama hampir 4 tahun, dan banyak hal telah saya lakukan di sana. Namun kini, fungsi saya tidak lebih dari sekedar memberi masukan untuk kegiatan-kegiatan yang berlangsung di perkumpulan tersebut, tanpa ikut ambil bagian secara langsung di dalam kegiatan-kegiatannya.
Saya sempat bertanya kepada diri saya, ke mana motivasi yang dulu saya miliki? Apakah saya terlalu lelah? Atau bosan?
Jawabannya, tidak. Bukan itu yang membuat saya tidak aktif. Ini semua mengenai nilai yang saya pegang.
Dulu, perkumpulan itu menjadi prioritas saya, sepeda saya yang memperkenalkan saya pada dunia baru. Teman-teman baru, tempat baru, suasana baru. Namun kini, hidup saya butuh lebih dari sekedar itu. Saya butuh bergerak lebih cepat, dengan prioritas-prioritas yang juga sangat berbeda.
Lalu, salahkah saya karena sepeda itu kini saya tinggalkan begitu saja? Habis manis sepah dibuang?
Saya rasa tidak.
Empat tahun setelah saya lahir, adik pertama saya lahir. Sewaktu bayi, ia tidur di ranjang bayi yang dulu adalah kepunyaan saya. Ia tumbuh dengan baju-baju bayi peninggalan saya. Ia makan dari peralatan makan bayi saya. Sampai akhirnya, ketika ia lebih besar, ialah yang mewarisi sepeda saya.
Sepeda tua itu mungkin tidak lagi berarti apa-apa bagi saya. Namun sepeda tua saya adalah sepeda baru bagi orang lain, sepeda yang disambut dengan euforia yang sama, dan siap mengantarkan orang itu kepada hal-hal baru.
Di akhir pertemuan saya dengan anggota-anggota perkumpulan itu, saya berpesan pada mereka untuk menggunakan setiap kesempatan sebaik-baiknya.
"Manfaatkanlah sepeda tua ini untuk membawamu ke tempat-tempat yang kau inginkan."
Mengapa kita berjumpa bila akhirnya dipisahkan?
-John Smith, Pocahontas-
Melepas lelah setelah ujian, kemarin malam saya menyempatkan diri menonton sebuah film animasi yang baru saya beli di mal. Film ini bukan film baru, tapi saya memang belum pernah menontonnya. Pocahontas. Pasti sudah tidak asing lagi.
Film ini adalah film Disney yang masih berkisah tentang cinta, namun memiliki alur dan kisah yang agak berbeda dari film-film roman Disney lainnya. Uniknya, dibandingkan dengan film-film Disney terdahulu, film ini boleh dibilang tidak terlalu laku. Bahkan, di dalam deretan Disney Princess pun, Pocahontas tidak masuk hitungan. Padahal, Mulan yang bukan putri saja bisa berpose centil bersama Jasmine, Cinderella, Aurora, Ariel, Belle, dan Snow White. Memangnya, ada apa dengan Pocahontas?
Pocahontas pada dasarnya menceritakan cinta yang berasal dari dua dunia berbeda. Mirip dengan kisah Ariel, namun Pocahontas tidak seberuntung Ariel. Karena John Smith mengalami luka parah dan harus kembali ke Inggris, Pocahontas harus berpisah dengan cintanya karena ia telah memilih untuk tinggal bersama rakyatnya.
Film ini adalah film yang sangat berkesan bagi saya. Karena pada kenyataannya, cinta memang tidak selalu berakhir bahagia.
Saya pun teringat dengan lirik lagu yang kalau tidak salah berbunyi, "Mengapa kita berjumpa bila akhirnya dipisahkan? Mengapa kita bertemu bila akhirnya dijauhkan?" Terusik dengan lirik lagu Yovie and the Nuno tersebut, seorang teman saya lantas bertanya kepada saya, kira-kira apa jawabannya.
Saya pun menjawab, "Saya tidak tahu, karena saya tidak punya jawabannya. Jawabannya ada di antara pertemuan dan perpisahan itu." Sebuah pertemuan tidak pernah sia-sia. Bahkan ketika kita harus berpisah, waktu-waktu yang telah dilewatkan bersama akan berdampak bagi hidup kita selanjutnya. Yang pasti, kita harus mensyukurinya.
Dalam film Pocahontas, diperlihatkan bagaimana John Smith akhirnya bisa mengerti bahwa alam pun hidup, setelah ia bertemu dengan Pocahontas. Pesona wanita Indian itu telah mengajarkan dia sesuatu yang akan ia kenang selamanya. Sesuatu yang begitu berharga. Karena itulah, perpisahan yang ia alami dianggapnya sesuatu yang indah dan tidak akan terlupakan.
"If I never knew you, if i never felt this love,... I'll be lost forever... if I never knew you"
Kamis, 02 April 2009
Still on the same topic...
"Take away all my sadness, fill my life with gladness... Ease my troubles, that's what you do."
Terkadang saya membayangkan, akan sebahagia apa saya bila nanti saya diizinkan Tuhan menemukan seseorang yang akan menjadi teman jiwa saya. Seseorang yang mengambil segala kesedihan dari hidup saya, mengisi lubang itu dengan kebahagiaan, dan menghapuskan semua masalah...
Namun saya tahu saya tidak boleh mencarinya.
"Love is not self-seeking..."
Ketika kita berusaha mencari pasangan hidup kita, seringkali kita terkaburkan. Kita tidak benar-benar sedang mencari seseorang untuk kita cintai, untuk berbagi hidup, dan menghabiskan waktu bersama. Kita sebaliknya sedang mencari kepuasan ketika kebutuhan kita akan seseorang itu terpuaskan. Tujuan kita bukan lagi kebahagiaannya, melainkan kebahagiaan kita. Kita lupa bahwa kebahagiaan kita, sejatinya terletak di dalam kebahagiaannya. Itulah cinta.
Karena itu, hingga kini, saya terus belajar mengejar tujuan yang benar. Tidak lagi menginginkan seseorang untuk menjadi pendamping saya, tapi selalu menjadikan Tuhan sebagai tujuan hidup yang terutama. Apabila suatu saat saya menemukan pendamping hidup, saya pun tahu bahwa ia ada sebagai pemberian Tuhan bagi saya, dan cintalah yang menghantarkannya.
Jumat, 20 Maret 2009
Kini Aku Sendiri
'Kebersamaan' sejatinya adalah hadiah yang memperkaya manusia, yang membuatnya berbeda, saat ia mati daripada ketika ia lahir. Kebersamaan membentuk manusia menjadi apa dia nanti, ketika tiba saat ia pergi.
Sesaat setelah manusia lahir, ibu menjadi orang yang bersama dengan kita. Kemudian, kita mengenal ayah. Lalu, kakak dan adik. Lalu, keluarga besar. Tetangga. Teman-teman sekitar rumah. Ibu guru. Teman sekelas. Sahabat baik. Pacar pertama. Pacar kedua. Sahabat baru. Istri pertama dan terakhir. Anak pertama. Menantu. Cucu. Sampai akhirnya kita kembali sendirian.
Catatlah siapa saja orang-orang yang dulu pernah bersama dengan kita, dan apakah mereka masih bersama kita sekarang.
Kita akan melihat, bahwa manusia datang dan pergi. Mereka yang dulu menjadi sandaran hati kita, kini sudah entah di mana. Sedih memang, mengenang masa-masa yang indah yang kini telah berlalu.
Namun itulah kenyataannya. Kita sering tidak bisa mengerti mengapa kita harus dipertemukan bila akhirnya kita berpisah, bila hanya untuk mengecap kebersamaan yang sementara. Kita lupa bahwa setiap 'kebersamaan' hanyalah hadiah yang cuma bisa kita ambil kalau diberi, dan bukan kita rampas untuk miliki. Kita lupa bahwa 'kebersamaan' akan pergi bila misinya telah usai. Kita lupa bahwa setiap 'kebersamaan; selalu meninggalkan sesuatu ketika ia mampir di hidup kita. Kita lupa bahwa jawaban yang selalu kita cari ternyata ada di dalamnya.
Kini, kita hanya harus melihat, seperti apa kita sekarang.
Kini, kita hanya harus bersyukur, atas apa yang telah 'kebersamaan' berikan.
Tidak ada yang perlu disesali. Tidak ada yang perlu ditangisi.
Jumat, 20 Februari 2009
The Wonderful Psalm of David
Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku.
Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan kan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa.
Demikianlah Mazmur 23, sebuah pasal yang dimuat di dalam Alkitab, yang diyakini ditulis sendiri oleh Raja Daud. Sebuah pasal yang sangat familiar sekaligus asing, karena sangat diingat namun belum tentu dimengerti.
Mazmur 23 adalah refleksi kehidupan seorang raja besar, yang berlatar belakang sebagai seorang gembala. Setelah semua yang ia lalui di dalam kehidupannya, ia menyanyikan pengalamannya dengan Tuhan, yang ia gambarkan sebagai gembala. Menarik, karena ternyata, dari lagu sederhana ini, sang raja mengajarkan kita tentang makna berkat di dalam kehidupan.
Besok, keluarga saya berencana memperingati 100 hari kematian Ayah.
100 hari bagi beberapa orang mungkin menjadi sebuah simbol atau kepercayaan yang berkaitan dengan arwah orang-orang mati. Namun bagi saya, 100 hari kembali mengingatkan berapa lama waktu yang telah mampu saya lewatkan tanpa adanya seorang ayah, yang menjadi tumpuan hidup keluarga saya. Dalam kalimat lain, 100 hari adalah banyaknya penyertaan Tuhan bagi saya di masa-masa terberat dalam hidup saya.
Dalam 100 hari tersebut, saya benar-benar diuji. Keluarga dan kerabat bolak-balik datang dan menelepon rumah saya, kerap kali menyatakan penyesalan atas kematian Ayah. Sanak saudara terus tidak bisa menerima kepergian Ayah yang sangat mendadak, dan mulai menganggap bahwa peristiwa ini seperti sebuah bencana tragis di mana Tuhan telah gagal mendatangkan mujizat-Nya. Teman-teman menyatakan rasa simpati, yang seringkali lebih mirip rasa kasihan dan iba atas kemalangan hidup saya.
Saat itulah saya kembali teringat akan Mazmur 23.
Orang-orang seringkali menganggap bahwa berkat dalam kehidupan adalah kekayaan, kesehatan, kekuatan, kepandaian, keberhasilan, dan sejuta hal baik lainnya yang bisa Anda tambahkan sendiri. Mereka terus mencari dan berdoa, untuk kesembuhan orang yang dicintainya, untuk keberhasilan studi anaknya, untuk kemajuan usaha dan bisnisnya, ataupun untuk keselamatan diri mereka sendiri. Semua itu memang tidak salah, namun tanpa sadar, mereka telah mengaburkan, bahkan menginjak-injak makna berkat yang sesungguhnya. Mereka mengurung Tuhan dan kuasa-Nya dalam ruang sempit di dalam kotak pemahaman mereka sendiri.
Raja Daud juga mengetahui hal tersebut dan memahaminya dengan jelas. Ia telah melihat banyak hal selama masa kehidupannya, yang kemudian ia tuliskan agar dapat membuka mata kita semua.
Masa-masa indah di mana ia merasa berada di padang yang hijau, masa-masa damai di mana ia boleh menikmati air yang tenang, bahkan masa-masa menakutkan di lembah kekelaman. Berbagai pengalaman kehidupannya telah membawa dia kepada sebuah kesimpulan yang menjadi akhir dari Mazmur 23: "Kebajikan kan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku".
Betapa kita tidak menyadarinya! Berkat Tuhan, yang adalah kebajikan dan kemurahan itu, sesungguhnya mengikuti kita seumur hidup kita. Ketika kita telah memutuskan untuk mengikuti-Nya dan berserah kepada-Nya, setiap langkah hidup kita sesungguhnya menjadi berkat yang tidak kita sadari.
Padang hijau, air tenang, lembah kekelaman, semuanya hanya bungkus yang berbeda dari hadiah yang sama. Hadiah yang sejati itu tak lain adalah pengalaman kita dengan Tuhan di dalam setiap keadaan. Lindungan-Nya di padang, belaian-Nya di air tenang, dan tongkat-Nya di masa-masa kelam kehidupan kita, itulah yang sepantasnya menjadi apa yang kita cari.
Kini, saya tidak lagi berdoa untuk kekayaan, kepintaran, ataupun kesuksesan. Saya hanya meminta penyertaan-Nya dalam setiap langkah hidup saya, agar saya boleh melihat kemuliaan-Nya dan terus melekat kepada-Nya.
Terima kasih untuk Ayah yang dalam hidup juga matinya telah mengajarkan saya banyak sekali keindahan
Cinta setelah 14 Februari Tahun Ini
Tahun ini, tepat tanggal 14 Februari, saya kembali menemukan makna cinta. Rasanya seperti membuka kembali lemari tempat saya menyimpan semua benda kenangan. Begitu haru, begitu rindu, seperti bertemu kembali sahabat lama yang dulu pergi jauh. Dan kali ini, ia tidak lagi akan pergi.
Makna itu kini hadir sebagai sosok yang lebih matang. Makna yang hadir bukan lagi karena pemahaman intelektual ataupun prestasi kognitif, namun lewat bertahun-tahun pengalaman kehidupan dan perenungan batin.
Cinta yang dulu saya cari semata-mata sebagai ikatan relasi antara dua pasangan, tiba-tiba datang menyeruak ke dalam serambi kehidupan saya dalam bentuk yang berbeda. Hampir saja saya tidak mengenalinya, namun kehangatannya berhasil membuka mata saya.
Beberapa tahun yang lalu, ketika saya mengawali masa perkuliahan saya, saya membawa sebuah pemahaman: cinta akan mempertemukan saya dengan orang yang tepat pada saat yang tepat. Pemahaman yang terdengar dewasa namun tidak sempurna. Pemahaman yang bukan dari hati, namun hanya merupakan cara untuk menjauhkan diri dari hubungan yang tidak serius.
Akhirnya, waktu menghanguskannya. Pemahaman itu terbakar habis seiring bertambahnya usia. Seiring bertambahnya kerabat yang menikah. Seiring makin seringnya kabar yang terdengar mengenai si anu yang kini bersama si anu. Saya tidak pernah menyadari bahwa rasa iri dan ingin memiliki telah bertransformasi dan mengambil rupa sebuah ambisi untuk menemukan cinta secepatnya. Ambisi tersebut seolah mengaburkan mata hati, yang kini tidak lagi percaya pada kuasa cinta.
Hingga akhirnya, kehadiran seorang sahabat telah mendobrak pintu ruang pemahaman saya yang begitu sempit, membawa saya ke dalam perenungan pribadi, dan dalam kesendirian kembali mengumpulkan keping-keping kehidupan untuk menatanya sekali lagi. Dan inilah yang saya dapat.
Tahun ini, tepat tanggal 14 Februari, saya kembali menemukan makna cinta. Makna yang tidak bisa dijelaskan dengan kata, namun hanya bisa direngkuh dengan menghidupi dan menghayati cinta dengan sepenuhnya.
Cinta ternyata bukan hanya rantai pengikat dua manusia, tapi bahasa universal yang menjadi denyut semua makhluk. Cinta tidak perlu dicari, sebab ia tidak pergi ke mana-mana. Dan ketika kita merasa kita telah menemukannya, cinta telah lama ada di sana. Ia telah lama menemukan kita, dan kini ia menyentuh kita.
Pemahaman itu kini telah mengubah arah hidup saya. Tujuan saya kini tidak lagi menemukan cinta ataupun pasangan hidup, melainkan berbagi kehidupan dan setiap perjalanan bersama cinta.
Dipersembahkan untuk dia, yang telah memperbaharui makna dan menghidupkan kembali cinta